Mural tulisan "City of Tolerance" di Kota Yogyakarta

Mural: Representasi Kritik dan Perlawanan Sosial

Dilani Maryam

Pesan kritik sosial yang tergambarkan pada mural menjadi menarik bukan hanya karena aspek seni yang dapat mendatangkan kesenangan kepada penikmatnya, namun pula, telah menjadi bagian dari gerakan sosial yang menginginkan perubahan.

Mural tak hanya tentang seni yang indah, tetapi jauh lebih dalam dari itu berarti kritik dan perlawanan. Setidaknya itu, yang termanifestasi dari mural di ruang publik Kota Yogyakarta. Bagi masyarakat yang tinggal di sana, seni jalanan memiliki peran penting dalam memperkuat menjaga keindahan sekaligus memperkuat identitas budaya. Pun bagi para pendatang, mereka menganggap seni jalanan merupakan salah satu keunikan Kota Yogyakarta sebagai Kota Budaya-nya Indonesia. Seni jalanan sendiri adalah setiap karya seni yang dikembangkan di ruang publik, yang memiliki tujuan untuk dapat diakses secara bersama-sama oleh publik. Di Kota Yogyakarta, salah satu jenis seni jalanan yang paling banyak ditemui adalah mural. Masyarakat dapat menikmati mural di sebagian besar dinding jalanan hingga perkampungan Kota Yogyakarta. Tidak mengherankan, kota yang lebih dahulu mendapatkan predikat sebagai kota pelajar ini, pula disebut sebagai kota mural-nya Indonesia. 

Bagi sebagian besar pendatang, mural di Kota Pelajar ini memiliki daya tarik tersendiri. Tak jarang, turis menghabiskan waktu untuk hanya sekedar mengamati atau berfoto saja dengan gambar mural di dinding kota. Tidak hanya indah untuk dipandang, mural pula syarat akan makna. Inilah yang menjadikan dinding-dinding di daerah istimewa ini semakin unik di mata pendatang. Dengan mengamati gambar mural yang tersaji di dinding kota, pendatang dapat melihat gambaran kondisi kehidupan masyarakat setempat. Sebab, mural di kota Yogyakarta identik dengan penggambaran realitas sosial masyarakat di tempat pembuatannya.

Mural sendiri merupakan salah satu media alternatif seni visual jalanan, atau street art yang berfungsi sebagai wadah aspirasi masyarakat melalui lukisan-lukisan bernuansa kritik, informasi peristiwa, maupun sarana pemersatu hati nurani antara seniman dan masyarakat.  Pesan dalam mural disampaikan dalam bentuk visual yang sarat akan lambang, tanda, kode dan makna. Cara penyampaian pesan dalam komunikasi visual terdiri dari dua jenis, yaitu secara verbal maupun visual. Gambaran verbal dalam mural adalah bahasa yang berwujud tulisan, sedangkan gambaran visual adalah bentuk dan warna yang disajikan dalam mural tersebut.

Cikal bakal munculnya mural sebagai seni yang diminati oleh seniman dan masyarakat kota Yogyakarta dimulai tahun 1997an, di mana pada saat itu terdapat minat yang tinggi di kalangan seniman jalanan dalam pembuatan gravity. Meskipun karya seni gravity berbeda dengan mural, namun momentum ini dianggap menumbuhkan minat seniman dalam pembuatan mural di Kota Yogyakarta. Pada mural, seniman menggambarkan ide-ide yang berangkat dari suatu keyakinan atau penilaian terhadap realitas kehidupan masyarakat di sekitar.

Mural berkembang sebagai sarana menuangkan kritik terhadap rezim pemerintahan yang berkuasa. Di masa orde baru, pembuatan mural dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dimana pada saat itu terdapat larangan yang ketat dalam menyuarakan kritik, terutama dalam media seni yang terbuka terhadap pemerintahan. Pada perkembangan selanjutnya, seni mural di Yogyakarta tidak lagi dibuat oleh seniman namun justru oleh masyarakatnya sendiri. Mural telah menjadi bagian dari gambaran kehidupan masyarakat sekaligus sebagai sarana yang membuka ruang publik untuk mengutarakan realitas sosial yang ada. Masyarakat telah memiliki inisiatif yang cukup tinggi untuk bekerjasama membuat mural hingga masuk pada perkampungan.

Salah satu spot mural yang mencolok dan terkesan iconic terletak pada dinding Jembatan Kewek. Berlokasi di tengah Kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Kota Baru, Jembatan ini memiliki dinding-dinding luas yang dipenuhi oleh gambar mural. Menariknya, sebagian besar gambar mural tersebut berisikan pesan yang sama, yaitu adanya protes dan perlawanan terhadap kondisi sosial yang terjadi. Salah satunya adalah potret mural dengan latar belakang hitam, yang didalamnya terdapat gambar tangga dari dua arah menyerupai podium panggung, dan ditengah gambar tersebut tertulis dengan huruf besar yang mencolok, yaitu ‘City of Tolerance?’. Di bawah tulisan capital yang mencolok tersebut tertera tulisan lain yang berbunyi ‘penyeragaman membunuh keberagaman’.

Mural tersebut dibuat oleh seniman-seniman serta komunitas-komunitas seni jalanan yang ada di Kota Yogyakarta untuk menyuarakan krisis toleransi yang tidak mendapatkan penanganan oleh pemerintah. Benar saja, menurut Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta mencatat terdapat 35 kasus pelanggaran sepanjang tahun 2017, 10 diantaranya adalah pelanggaran hak sipil dan politik, serta 25 kasus pelanggaran hak ekonomi, sosial, dan budaya. Tak berbeda jauh, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBT), mencatat terdapat 23 kasus pelanggaran hak kebebasan beragama dan berkespresi yang dilakukan oleh kelompok intoleran di Yogykarta. Jumlah kasus intoleransi tersebut kenyataannya terus meningkat. Sejalan dengan itu, Pusat Studi Kebudayaan dan Keagamaan Universitas Gadjah Mada juga menyatakan bahwa praktek intoleransi sangat mengkhawatirkan, padahal seperti yang diketahui, Yogyakarta sempat memiliki julukan sebagai provinsi yang menjunjung toleransi.

Aksi serempak pembuatan mural dengan tema kegelisahan akan intoleransi yang dilakukan di Jembatan Kewek ini menempatkan mural sebagai media yang efektif dalam mengarahkan massa dan melakukan perlawanan. Gambar mural dapat dimaknai sebagai wujud kegelisahan, kemarahan, kekhawatiran, dan keinginan untuk mengubah kondisi yang ada. Dalam hal ini, obyek yang tergambarkan dalam mural dapat digunakan sebagai pesan untuk mempengaruhi dan menyadarkan masyarakat untuk memahami problematika sosial yang sedang terjadi. Apabila pesan tersebut dimaknai oleh orang lain, maka orang tersebut akan tergerak untuk melakukan upaya-upaya untuk menghasilkan perubahan secara kolektif.

Pesan kritik sosial yang tergambarkan pada mural menjadi menarik bukan hanya karena aspek seni yang dapat mendatangkan kesenangan atau kebahagiaan kepada penikmatnya, namun pula, telah menjadi bagian dari gerakan sosial yang menginginkan perubahan sosial. Mural, nyatanya merupakan seni milik publik yang membuka komunikasi dua arah. Dalam pembuatannya, seniman mural di Yogyakarta melakukan komunikasi secara visual kepada masyarakat terhadap apa yang ingin dicurahkan, sedangkan masyarakat sebagai penikmat mampu berinteraksi langsung kepada seniman. Hal ini sejalan dengan konsep bahwa mural sudah lama digunakan sebagai medium perlawanan, terutama untuk membakar semangat bersama melawan dominasi yang berkuasa, baik pada masa penjajahan, mempertahankan kemerdekaan, ataupun melawan otoritas represif yang berkuasa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *