bicycle, guy, waiting

Bersepeda, Konsumsi, dan Gaya Hidup

Oleh Herlianto A.

Konsumsi untuk memenuhi kebutuhan tubuh secara alamiah, sementara konsumtif untuk memuaskan hasrat dan prestis yang sengaja diciptakan secara sosial.

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba belakangan ini bersepeda menjadi mode olahraga yang ngetrend di kalangan masyarakat baik anak-anak, muda-mudi, bahkan yang terbilang sudah berumur. Mereka mengayuh besi beroda itu di jalur-jalur utama dalam kota, menelususri ruas-ruas jalan yang mulus dengan lampu yang terang. Asyiknya bersepeda itu bisa kita lihat di pusat-pusat kota seperti Surabaya, Yogjakarta, Malang, Jakarta, dst.

Biasanya mereka tidak “ngonthel” sendirian, melainkan bersama beberapa orang teman. Terasa asyik dan seru memang bersepada rame-rame sembari berbincang dan menikmanti suasana kota. Terlebih pagebluk Covid-19 yang masih terus meradang, mobilitas manusia di kota-kota dibatasi, jalanan menjadi lengang, alhasil kemacetan berkurang, dan udarapun lebih segar tentunya.

Keseruan itu tidak hanya mereka lakukan di siang hari, pagi atau sore, bahkan hingga malam hari masih ditemui pesepeda yang keluyuran di jalanan. Maklum, jalan di kota dipenuhi gemerlapnya lampu kanan kiri, berbeda dengan jalan-jalan desa yang berubah menjadi gua kala malam tiba karena gelap.

Trend ini penting bukan saja bagi pemilik sepeda tetapi juga bagi pedagang sepeda, penjualan mereka meningkat ratusan persen dari pada bulan-bulan sebelumnya. Para penjul spare part dan bengkel sepeda juga mengalami peningkatan. Sepeda-sepeda lama yang sudah rusak kini kembali diperbaiki. Onderdilnya diganti yang baru dan catnya dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tak kalah bagusnya dengan sepeda baru. Pengguna merasa tak kalah trendi bahkan lebih keren karena sepedanya unik dan klasik.

Meningkatnya minat bersepeda ini, membuat para ahli kesehatanpun turut angkat bicara. Mereka menilai aktivitas ini sangat positif, menyehatkan dan tidak menghasilkan limbah CO2 yang mencemari udara seperti kendaraan bermotor. Juga, sebagai alternatif menjaga stamina agar dapat bertahan jika tiba-tiba diserang Covid-19. Artinya, bersepeda adalah aktivitas yang dibutuhkan tubuh sekaligus sangat ramah lingkungan.

Namun, seiring meningkatnya intensitas bersepeda kita dihadapkan pada fenomena lain. Jika sebelumnya bersepeda sebagai “konsumsi”, kini berubah menjadi “konsumtif”. Dua hal yang berbeda, konsumsi untuk memenuhi kebutuhan tubuh secara alamiah, sementara konsumtif untuk memuaskan hasrat dan prestis yang sengaja diciptakan secara sosial. Bersepeda secara konsumsi menghasilkan keringat, sementara secara konsumtif menghasilkan gaya hidup (lifestyle).

Hal ini terlihat pada pesepeda yang keren-keren di kota-kota besar. Mereka bersepeda sengaja untuk sebatas ikuti trend dan menghabiskan waktu luang (leisure time). Karena itu yang ditampilkan bukan bersepeda sebagai olahraga, tetapi sebagai suatu show yang bernuansa ritual. Mereka bukan tidak sempat berolah raga, atau tak punya media olahraga. Di rumah bisa jadi mereka memiliki alat-alat olahraga yang lengkap, tetapi mereka perlu panggung baru untuk pertunjukan olah raga mereka.

Maka wajar, jika sepeda yang mereka gunakan harganya sangat mahal. Satu sepeda nilainya bisa jutaan hingga puluhan juta rupiah dengan merek-merek ternama. Termasuk perabotan yang menempel pada tubuh mereka mulai dari helm, kaos, hingga sepatu harganya fixed price dari toko yang khusus untuk itu. Ini tak seperti peralatan pesepeda lainnya yang biasanya di bawah standar dan belinya ditawar berkali-kali di pasar tradisional.

Bedanya lagi, berspeda sebagai konsumtif biasanya orang-orangnya datang dari berbagai daerah bersama koleganya. Mereka datang ke suatu tempat yang dituju, misalnya Malioboro, kalau di Yogjakarta, atau jalan Idjen kalau di kota Malang, dst. dengan tidak bersepeda. Sepeda mereka dibawa oleh mobil khusus ke lokasi, sementara  mereka sendiri datang dengan mobil.

Di lokasi mereka ganti kostum lengkap seperti pesepeda profesional, lalu bergerombol bersama bersepada mengelilingi titik-titik penting di kota tujuan itu. Bahkan ada yang hingga dikawal  patwal polisi dan otomatis dapat melewati perempatan sekalipun lampu merah menyala, pesepeda  lain diminggirkan untuk mereka.

Tak pelak pergeseran fenomena ini, kembali melahirkan kelas-kelas di antara pengguna sepeda di jalanan. Kelompok-kelompok sosial kembali terbelah ditengah boomingnya bersepeda ke dalam kelas atas dan bawah. Bagitulah realitas sosial itu menampak. Seakan sudah menjadi kutukan sejarah sejak zaman feodal hingga hari ini.

Namun begitu, bersepeda tetap perlu didorong terutama bersepeda sebagai konsumsi karena manfaat yang diberikan bagi tubuh maupun lingkungan itu sendiri. Bersepeda sebagai konsumsi tidak akan lekang oleh zaman, seberapapun rupa-rupa trend itu akan berubah dari waktu ke waktu. Itu yang kita rasakan saat bersepeda sejak berada di sekolah dasar hingga hari tua ini. Bersepeda tetap penting dan menyehatkan. Tetapi bersepeda sebagai konsumtif akan berakhir begitu trend itu berubah. Karena konsumtif adalah rekayasa sosial oleh kapital, begitu rekayasa itu tak lagi menambah modal, seketika itu akan lahir rekaya lain, yang berarti munculnya trend baru. Sepeda-sepeda yang mahal-mahal itu akan dibiarkan mengkarat. Konsumtif terikat dengan citra prestis yang secara dominan menggerakkan imajinasi mereka ketimbang dorongan riil.   

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *